MENGHARDIK TUHAN

Seorang pria bernama Dwi sedari kecil bercita-cita menjadi pilot. Ambisi yang besar serta keinginan membaja dengan tekad bulat, berhasil mengantarkan dia masuk ke sekolah penerbangan di curug, tangerang. Dengan seragam sekolah penerbangan, dia sangat bangga dengan seragamnya. Hobi-nya setiap hari adalah mejeng didepan kerumunan orang banyak, seolah olah mau mengatakan, “lihatlah seragam saya, saya calon pilot !” Aksinya makin membuat dia over convident ketika bertemu dengan gadis-gadis. “Saya calon pilot !” begitulah yang dia selalu ucapkan berkali kali.

Satu ketika dia bertemu dengan seorang gadis mahasiswi di salah satu perguruan tinggi teologia, dan berkenalan dengannya. Namanya Bethania Eden, orang ambon. Perawakannya hitam manis, cara bicaranya sangat santun. Mereka saling jatuh cinta.

Sampai akhirnya Bethania dibawa oleh Dwi untuk dikenalkan dengan orang tuanya. Baru didepan rumah, Ibu dari Dwi sudah menunggu dan langsung melakukan interview live seperti acara breaking news.

Yang pertama ditanyakan sang ibu bukanlah nama, melainkan berapa tanggal lahir kamu ? Langsung dihitung oleh sang ibu. Ternyata, menurut tanggalan Jawa, mereka tidak cocok.

Pertanyaan kedua adalah “kamu orang mana ?” Begitu tahu sang Ibu kalau si Bethania itu orang Ambon, matanya langsung melotot.

“Hei .. orang Ambon mesti cari jodoh orang Ambon juga ! Tidak boleh cari jodoh dengan orang jawa, apalagi dengan anak saya ! Maklum, si Ibu tidak menyukai orang Ambon. Apalagi orang Batak dan Madura.

Mereka akhirnya pacaran diam diam. Backstreet way. Menjelang kelulusan Dwi dari sekolah pilot, dia harus melewati satu ujian, yaitu terbang solo dengan instrukturnya dengan menggunakan pesawat baru dari Jerman. Sebelum itu, dia sudah mendapat tawaran pekerjaan dari Garuda Indonesia ( karena dia termasuk siswa cemerlang, bahkan tidak diperlukan test lagi untuk masuk ke Garuda ) . Jadi, setelah lulus dia akan bekerja di Garuda. Pagi hari sebelum ujian, dia sempat menelpon sang kekasih untuk memberitahukan penerbangannya yang terakhir dalam sekolah.

Dia terbang, di daerah Jawa Barat. Berjalan beriringan dengan instrukturnya. 2 pesawat melayang terbang. Keduanya terlibat percakapan yang asyik, sampai mereka melewati batas zona hijau ( kondisi yang tidak disarankan untuk penerbangan, karena akan melewati awan putih yang hampa udara ) ketika masuk kedalam awan, pesawatnya langsung turun karena hampa udara dan jatuh ke tebing gunung gede.

Pesawatnya terbakar kedua-nya. Sang instruktur bisa melepaskan diri dari kebakaran, namun tidak bagi Dwi. Dia terbakar hidup hidup selama 1 1/2 jam. Instrukturnya tidak bisa menolong karena api yang terlalu besar. Tapi akhirnya dwi bisa ditolong juga.

Masuk ke rumah sakit Siloam Glenagles, Lippo Karawaci yang waktu itu baru berdiri ( tahun 1997 ), dokter sudah memvonis bahwa hidup Dwi paling lama hanya 3 hari, karena luka bakarnya yang masuk grade 3 ( sangat parah ). Kondisinya ? lubang hidung menjadi lebih besar karena kulit sekitar hidung ciut akibat panas, daun telinga juga demikian. Belum lagi badannya yang gosong.

Dwi dimasukan kedalam ruangan isolasi, tenggorokannya terpaksa dilubangi untuk mengeluarkan asap dari paru parunya. Secara fisik, tidak mungkin hidup lama.

Si Ambon, kekasihnya ketika datang kerumah sakit, ditolak mentah mentah oleh ibu Dwi. Dia tidak diperkenankan masuk keruangan isolasi. Akhirnya dengan sedih dia menunggu di kapel (ruangan untuk berdoa didekat ruangan isolasi ).

Benar juga, nafas Dwi makin lama makin lemah, dan beberapa saat kemudian, Dwi meninggal. Didepan dokter, orang tua dan suster, mayat Dwi diratapi. Disaat yang sama, sang kekasih tidak mengetahui apa yang terjadi, dia hanya berdoa, Tuhan, tolong Dwi, saya mau menerima dia apa adanya dengan kondisi apapun. Tuhan menjawab doa si Ambon.

Mayat Dwi tiba tiba duduk tegak sambil berteriak Bethania. Kontan saja semua orang disana dibuatnya terkejut. Sang dokter bertanya, “siapa Bethania ?”

Lalu orang tuanya juga tidak tahu (karena tidak pernah menanyakan nama si Ambon). Akhirnya sahabat Dwi memberitahukan kalau itu nama pacarnya. Akhirnya, si Ambon masuk juga, tapi dia sama sekali tidak percaya kalau Dwi kondisinya sudah hancur. Kalau wajah Dwi waktu dulu seperti Tom Ming Se, sekarang berubah seperti Tom Yam.

Itulah Dwi, depresi mulai menyerangnya. Dia tidak mau lagi bertemu dengan orang orang. Dia mulai putus asa. Berteriak kepada Tuhan dari ruang isolasi, sambil memegang surat dari Garuda. Disinilah dia menghardik Tuhan, dan selalu bertanya, “kenapa ? kenapa saya mesti seperti ini ?”

Sang pacarpun tidak kalah depresinya. Setiap ke rumah sakit, selalu ditolak oleh Ibu Dwi, bahkan satu kali, wajah Bethania, diludahi oleh ibu Dwi. Tapi karena Bethania mengasihi Dwi, air ludah itu, dia bawa pulang dan dia doakan berkat bagi ibu Dwi. Anda bisa seperti itu ?

Kesengsaraan fisik Dwi, membuat suster di rumah sakit tidak sampai hati melihatnya. Mereka tidak tahan dengan penderitaan Dwi. Tapi bersyukurlah masih ada bethania, si Ambon yang sangat mengasihi Dwi.

Satu satunya jalan untuk mendekati Dwi, adalah menikah! akhirnya dia membicarakan kepada orang tua nya, dan mereka tidak setuju. Lalu dia pergi ke majelis gereja (karena dia masuk pelayanan sebagai hamba Tuhan), mereka juga tidak setuju.

“Dari sekian pemuda di gereja ini, masak tidak ada satupun wajah yang layak untuk kamu?” begitulah ibu majelis bertanya kepadanya. Dan kesempatan terakhir, adalah berbicara dengan orang tua Dwi. Singkat cerita mereka akhirnya menikah !

2 tahun dirumah sakit dengan 25 kali operasi plastik, akhirnya Dwi diperbolehkan pulang. Bukan karena Dwi sudah sembuh, melainkan dana dari departemen perhubungan sudah habis untuk biaya berobat Dwi di rumah sakit. Padahal, jari jari tangan Dwi masih menempel karena panas. Jadi sudah seperti burung pinguin tangannya.

Ada kejadian lucu ketika masih di rumah sakit. Satu kali Dwi merasa bosan dengan masakan rumah sakit, dan hendak makan sate ayam. Satu satunya yang jual sate ayam adalah abang sate yang selalu melintas dibelakang rumah sakit pada waktu malam. Dwi serta pacarnya berdua menunggu dibelakang rumah sakit. Dwi waktu itu masih diperban seluruh badannya. Menunggu sekian lama, membuatnya capek dan hendak duduk di sebuah dahan pohon kamboja. Dan ketika tukang sate lewat, Dwi memanggil abang sate itu, he he yang ada tukangnya lari tunggang langgang, sampe gerobaknya menabrak tiang listrik. Besoknya tersebar rumor para pedagang, bahwa malam malam ada setan di belakang rumah sakit.

Pernah juga Dwi tanpa sengaja tangannya ditarik oleh seorang kru film yang sedang syuting di rumah sakit. Mereka berpikir, Dwi itu figuran mereka. Ternyata mereka sadar, itu bukan figuran mereka.

Lepas dari rumah sakit, Dwi harus bekerja. Tapi bekerja dimana? kondisi badan seperti itu (kepalanya botak abis, mukanya masih belang belang) apakah mudah mendapatkan pekerjaan. Akhirnya ada tawaran sebagai agen asuransi. Sewaktu di wawancara, dia dipandang sebelah mata oleh si pewawancara. Target orang normal aja sebulan 1 klien. Tapi untuk Dwi ? 2 bulan 1 client. Tahu apa yang terjadi ? 43 client dia bisa dapatkan hanya dalam tempo 1 bulan!

Bukan hanya dia bekerja, tapi juga dia mau membagi kesaksian hidupnya kepada semua orang. semangat hidupnya mulai bangkit. Ketika dia membagikan cerita hidup kepada tentara tentara yang cacat ( akibat perang dengan GAM ), mereka akhirnya mau kembali lagi kepada Yesus, dimana sebelumnya mereka menyalahkan Tuhan karena tidak menyertai mereka berperang. Bahkan tak jarang, clientnya banyak yang mengikuti Yesus. Tahun 2003 kemarin, dia mendapat predikat agen terbaik dari tempat asuransi dia bekerja.

Beberapa waktu lalu, Bethania mendapat pelayanan untuk melayani satu keluarga. Alangkah terkejutnya keluarga itu melihat suami sang pendeta seperti itu. Namun setelah diberitahu, mereka baru bisa tenang. Dan salah satu dari anggota keluarga itu, sangat tertarik untuk membawa cerita Dwi menjadi serial sinetron sepanjang 25 episode. Namun akhirnya tidak jadi. Orang itu adalah direktur utama RCTI. Sekarang, Dwi diangkat menjadi karyawan RCTI ( dengan jabatan khusus ).

Rencana sinetron tidak jadi, malah diganti untuk diangkat ke layar lebar. Dengan pemeran utama Tora Sudiro ( memerankan Dwi sebelum kecelakaan ) dan Artika sari Dewi ( memerankan Bethania ), sekarang masih tahap syuting. Dan diperkirakan natal tahun ini sudah keluar filmnya.

Kemarin, saya melihat sendiri korban kecelakaan pesawat itu, si Dwi. Dari jauh, saya kira si bos Medco Energi ( Arifin Panigoro ) maklum, kepala Dwi khan sekarang pelontos dengan kulit agak gelap, jadi hampir agak agak mirip. Sedangkan Bethania, sang istri, sangat cantik ! mereka sekarang dikaruniai seorang anak berusia sekitar 5-6 tahun.

Dwi memang tidak jadi pilot pesawat, tapi sekarang sudah menjadi pilotnya Yesus. Membawa penumpang dari gelap menuju terang !

~ John Daniel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: