DEMI APAKAH ANDA BERANI MATI?

Anda pikir, Anda sedang berurusan dengan anak berumur empat tahun, yang bisa Anda beri kacang dan coklat, lalu Anda mengambil emas darinya?”

Itulah komentar presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, Rabu, 17 Mei 2006, ketika Uni Eropa menawarkan insentif  kepada Iran, agar Negara ini mau melepaskan program pengayaan uraniumnya. Di antara insentif dalam paket tersebut adalah reactor air ringan ( Ligth Water Reactor=LWR ).

Mencermati pernyataan pemimpin Iran di atas, orang dapat meraba apa sebenarnya yang ada di benak presiden Iran. Dari pernyataan tersebut bisa dikatakan bahwa bagi Iran, LWR hanyalah “kacang dan coklat”, lalu apa yang ia anggap”emas”? Secara umum,”emas” bagi Iran adalah penguasaan teknologi nuklir itu sendiri. Iran sudah tegas mengumumkan bahwa pihaknya memilih “emas” daripada “kacang dan coklat”.

Kalau Iran tidak mau menukarkan “emas” dengan “kacang dan coklat”, bagaimana dengan anda, ”Dengan apakah anda mau menukarkan hidup anda?” Atau dengan kata lain, “Demi apakah anda berani mati?”

Pertanyaan ini kedengarannya sangat menakutkan, tetapi kalau ditilik dari kejadian-kejadian di Negara kita, banyak orang yang mau menukarkan hidupnya dengan hal-hal sepele. Misalnya, seseorang berkelahi sampai mati karena mendalangi pembunuhan terhadap mantan mertuanya sebagai aksi balas dendam. Pada dasarnya, akar dari kedua persoalan itu adalah uang.

Cerita berikut ini akan menolong anda menjawab pertanyaan: “Demi apakah anda berani mati?”

Pada zaman dahulu, hiduplah dua orang jendral perang besar, Cyrus dan Cagular. Cyrus adalah raja Persia yang terkenal, sedangkan Cagular adalah kepala suku yang terus-menerus melakukan perlawanan terhadap serbuan pasukan Cyrus.

Pasukan Cagular mampu merobek-robek kekuatan tentara Persia, sehingga membuat Cyrus berang karena ambisinya untuk menguasai perbatasan daerah selatan menjadi gagal. Akhirnya, Cyrus mengumpulkan seluruh kekuatan pasukannya, mengepung daerah kekuasaan Cagular, dan berhasil menangkap Cagular beserta keluarganya. Mereka lalu dibawa ke ibu kota kerajaan Persia untuk diadili dan dijatuhi hukuman.

Pada hari pengadilan, Cagular dan istrinya dibawa ke sebuah ruangan pengadilan. Kepala suku itu berdiri menghadap singgasana tempat Cyrus duduk dengan perkasanya. Cyrus tampak terkesan dengan Cagular. Ia tentu telah mendengar banyak tentang kegigihan Cagular.

“Apa yang akan kaulakukan bila aku menyelamatkan hidupmu?” Tanya sang raja. “ Yang Mulia.” Jawab Cgular, “bila Yang Mulia menyelamatkan hidup hamba, hamba akan kembali pulang dan tunduk pada Yang Mulia seumur hidup hamba.” “Apa yang akan kaulakukan bila aku menyelamatkan hidup istrimu?” Tanya Cyrus lagi. “Yang Mulia, bila Yang Mulia menyelamatkan hidup istri hamba, hamba bersedia mati untuk Yang Mulia,” jawab Cagular.

Cyrus amat terkesan dengan jawaban Cagular. Lalu ia membebaskan Cagular dan istrinya. Bahkan, ia mengangkat Cagular menjadi gubernur yang memerintah di provinsi bagian selatan. Saat perjalanan pulang, Cagular dengan penuh antusias bertanya kepada istrinya, “Istriku, tidakkah kau lihat pintu gerbang kerajaan tadi? Tidakkah kaulihat kursi singgasana tadi? Itu semuanya terbuat dari emas murni!”

Istri Cagular terkejut mendengar pertanyaan suaminya, tetapi ia mengatakan. “Aku benar-benar tidak memerhatikan semua itu.” “Oh begitu…” Tanya Cagular terheran-heran. “Lalu apa yang kaulihat tadi?” Istri Cagular menatap mata suaminya dalam-dalam, lalu ia berkata, “Aku hanya melihat wajah seorang pria yang mengatakan bahwa ia bersedia mati demi hidupku.”

Setelah menyimak cerita tersebut, apakah anda sudah menemukan jawaban atas pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, “Demi apakah anda berani mati?” Demi kekasih anda? Negara? Kebebasan? Cinta? Atau, keyakinan? Pikirkan, demi apa anda bersedia untuk mati, dan anda pun akan menemukan demi apa anda hidup. Hiduplah demi sesuatu yang membuat anda bersedia untuk berkorban, bahkan mati pun rela, maka hidup anda akan menjadi berarti.

Sebelum anda menentukan demi apa anda hidup, marilah kita melihat kembali siapa diri kita sebenarnya. Bukankah kita sebetulnya harus menerima hukuman mati karena kita adalah manusia berdosa? Namun, karena anugrah-Nya-pengorbanan Yesus di kayu salib untuk menebus dosa kita, kita terbebas dari hukuman mati. Dengan demikian, sesungguhnya hidup kita ini bukan lagi milik kita. Maka, kita tidak lagi berhak atas hidup kita. Jikalau kita tidak berhak lagi atas hidup kita, apakah kita berani menukarkan hidup kita dengan sesuatu? Tidak, kan?

Seharusnya kita memiliki sikap seperti Cagular, tunduk pada Tuhan, Sang Penebus, seumur hidup kita dan bersedia mati untuk-Nya. Hidup kita adalah milik Tuhan, sehingga selayaknyalah kita memberikan hidup kita hanya untuk kemuliaan Tuhan, Sang Pemilik.

Selamat memuliakan Tuhan!

Dari : Setiap Langkah adalah Anugrah – Eddy Nugroho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: