KISAH BATU JALANAN

Penulis : Kristian. N

Seorang musafir sedang berjalan menyusuri jalan setapak menuju sebuah kuil. Tinggal sekitar 200 meter lagi, ketikadi dijumpainnya sebuah pohon asam yang begitu rindang. “Akhirnya aku sampai juga. Ah alangkah nyamannya jika aku beristirahat di bawah pohon ini”, pikir musafir. Kemudian dia pergi menepi, dan duduk di bawah pohon itu. Diambilnya bekal makanan dan minuman, lalu bersantaplah ia.

“Hari yang panas ya”. tiba-tiba saja terdengar suara menyeletuk. Musafir pun menoleh, mencari siapa yang tadi berbicara.

“Siapa yang berbicara?” tanya musafir. “Mari duduk di sini, bergabung dengan saya. Saya punya sekantung minuman dan sedikit makanan yang bisa dibagikan”. Undang musafir.

“Saya ada di sini, disamping Anda”. Jawab suara itu, yang ternyata sebongkah batu yang berada di samping musafir.

“Dari bentukmu yang teratur, bukankah kamu batu jalanan? Kenapa kamu ada di sini, bukankah seharusnya kamu berada di jalan bersama dengan yang lain?” tanya musafir heran.

“Ya, aku dulu juga berdiri di sana, menjadi batu jalanan. Tapi coba kau lihat! bukankah tubuhku sedikit lebih besar dibandingkan dengan teman-temanku? Ini membuat aku lebih menyembul, menonjol dari yang lain”. Jawab batu jalanan.

“Lalu apa masalahnya?” Tanya musafir.

“Begini, banyak orang-orang yang pergi ke kuil tersandung karena terantuk tubuhku yang menyembul ini. Itu membuatku sedih dan merasa bersalah. Jika aku tetap di sana, maka aku hanya akan terus menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang mau datang ke kuil. Aku tidak mau menjadi batu sandungan. Makanya kemudian aku meminta seseorang untuk membawaku menepi di tempat ini, dan menggantikanku dengan batu yang lebih sesuai”. jawab batu jalananan, mencoba menjelaskan masalahnya kepada musafir.

“Oh, jadi begitu persoalannya. Kamu memang batu yang baik. Tidak banyak yang bisa menyadari jika dirinya menjadi batu sandungan seperti kamu. Memang sudah seharusnya selama kita hidup di dunia ini, kita harus berusaha agar tidak menjadi batu sandungan bagi yang lain. Alangkah benar keputusanmu ini.” Sambut musafir.

“Lalu kenapa kamu tampak tidak bahagia? Bukankah kamu sudah tidak lagi menjadi batu sandungan? Sambung musafir.

“Ya, mulanya aku sangat bahagia, karena aku tidak lagi membuat orang tersandung. Tapi entahlah, mungkin karena aku sudah terlalu lama di sini, aku jadi kesepian. Atau mungkin karena sekarang tidak ada lagi yang bisa aku kerjakan selain diam di sini. Lalu apa gunanya aku?” Keluh batu jalanan.

“Yah … mungkin juga seperti itu. Hei … coba lihat! tembok yang di sana itu, kelihatannya sengaja di jebol. Benarkah?” Tanya musafir.

“Oh, itu. Tembok itu memang sengaja di jebol, supaya bisa menjadi jalan pintas bagi warga desa yang ingin pergi ke kuil. Sekarang tembok jebol itu menjadi semacam pintu, warga desa biasa menyebutnya pintu gapit.” Terang batu jalanan.

“Ide yang cemerlang, penduduk desa bisa lebih cepat sampai ke kuil melalui pintu gapit itu. Tapi aku lihat pintu gapit itu masih terlalu tinggi untuk dilalui anak kecil, atau nenek-nenek. Bukankah mereka masih harus melompat?” tanya musafir.

“Memang, itu karena tanah yang ada di sebelah luar lebih tinggi dari yang ada di sebelah sini. Makanya tidak bisa di jebol lebih ke bawah. Tapi biasanya yang lain akan membantu, mengangkat tubuh mereka agar bisa melewati pintu itu dengan mudah.” Sambung batu jalanan.

“Hem… aku jadi punya ide untukmu. Kenapa kamu tidak berdiri saja di dekat pintu gapit itu. Bukankah di sana kamu bisa jadi batu pijakan supaya anak-anak dan orang tua bisa melewati pintu tanpa harus diangkat atau melompat?” terang musafir.

“Ah benar juga katamu. Kenapa tidak pernah terpikir olehku. Bukankah di sana aku bisa menjadi batu pijakan. Aku bisa berguna kembali. Terimakasih tuan kamu mengembalikan semangat hidupku.” Pekik batu jalanan dengan girang. Musafir kemudian membantu, mengangkat batu jalanan dan meletakkannya didekat pintu gapit.

“Sekarang setiap orang bisa melewati pintu ini dengan mudah. Baiklah teman aku akan meninggalkanmu di sini. Aku harus melanjutkan perjalanan. Baik-baiklah menjalankan peranmu, menjadi batu pijakan di sini.” Pamit musafir.

Musafir pun pergi meninggalkan batu jalanan yang tampak begitu bahagia. Ah … memang baik jika kita tidak menjadi batu sandungan, tapi alangkah lebih berbahagianya jika bisa menjadi batu pijakan bagi yang lainnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: